Peta-Peta Luka yang Tak Pernah Selesai
Resensi
buku Psikologi Perjalanan karya Benny Arnas
Oleh Juli Yandika
Judul:
Psikologi
Perjalanan: Perjalanan, Kejutan, dan Kesadaran Baru
Penulis:
Benny Arnas
Penerbit:
Baca (PT Bentara Aksara Cahaya)
Cetakan:
I, Mei 2026
Tebal:
328 halaman
ISBN:
978-623-8371-65-5
Barangkali
tidak banyak buku perjalanan yang justru berbicara tentang luka. Sebagian besar
buku sejenis biasanya menghadirkan pemandangan, pengalaman, dan kisah-kisah
yang menyenangkan. Psikologi Perjalanan karya Benny Arnas memilih
arah yang lain. Buku ini memperlihatkan bahwa setiap wilayah menyimpan luka
sejarahnya sendiri, dan manusia yang tinggal di dalamnya tidak pernah
benar-benar selesai berdamai dengan masa lalu. Di tangan Benny, perjalanan
tidak menjadi kegiatan mencari kebahagiaan, melainkan usaha memahami bagaimana
manusia hidup bersama ingatan yang tidak selalu menyenangkan.
Jika
Karakoram di Pakistan menghadirkan perjumpaan dengan maut dan ketakutan, Zagreb
justru membawa pembaca pada luka yang lebih sunyi. Di kota itu, perang telah
lama berakhir, tetapi jejaknya masih tinggal dalam percakapan dan kesunyian
para penyintas. Salah satu tokoh yang dijumpai Benny bahkan mengakui bahwa tak
ada sekolah militer yang mengajarkan bagaimana cara memaafkan musuh, apalagi
memaafkan diri sendiri setelah perang usai. Luka, rupanya, tidak ikut
menghilang bersama berhentinya tembakan. Sebaliknya, ia menetap di kepala
manusia dan kadang diwariskan kepada generasi yang bahkan tak pernah mengalami
perang itu sendiri.
Geografi
yang Menyimpan Duka
Yang
menarik dari buku ini adalah kemampuan penulis menangkap trauma kolektif yang
tersembunyi di balik wajah kota-kota yang tampak tenang. Baku, misalnya, tidak
sekadar menjadi ruang percakapan dan keramaian. Kota itu memperlihatkan
bagaimana masyarakat membangun optimisme di tengah sejarah panjang pergolakan
kawasan Kaukasus. Kairo juga demikian. Di balik kegaduhan dan stereotip yang
melekat pada Mesir, Benny menemukan masyarakat yang hidup di antara kebanggaan akan
masa lalu dan berbagai persoalan yang terus membayangi masa kini.
Bab
tentang Ljubljana menjadi salah satu bagian yang paling kuat. Di kota ini,
Benny mengangkat luka orang-orang Yahudi dan menggunakannya sebagai jembatan
untuk memahami penderitaan Palestina. Ia tidak sedang menempatkan satu kelompok
sebagai korban dan kelompok lain sebagai pelaku secara hitam putih. Sebaliknya,
ia memperlihatkan bahwa penderitaan mempunyai cara aneh untuk berulang. Sejarah
seakan mengajarkan bahwa mereka yang pernah menjadi korban tidak selalu kebal
dari kemungkinan menjadi pelaku. Perspektif semacam ini membuat buku tersebut
bergerak melampaui catatan perjalanan biasa.
Konya,
kota yang identik dengan Jalaluddin Rumi, juga tidak sepenuhnya hadir dalam
nuansa romantik. Di sana, Benny justru berbicara mengenai kehilangan dan
kerinduan. Pertemuan Rumi dengan Syams Tabriz dibaca sebagai pengalaman manusia
yang selalu mencari sesuatu yang hilang dalam dirinya. Cinta, dalam bab ini,
tidak tampil sebagai perayaan, melainkan sebagai jalan panjang menuju
kesadaran. Sebagaimana Rumi berubah setelah berjumpa dengan gurunya, manusia
modern pun sering kali membutuhkan kehilangan agar mampu memahami dirinya
sendiri.
Luka
yang Dibawa dari Rumah
Salah
satu kekuatan Psikologi
Perjalanan terletak pada kesadaran bahwa luka tidak hanya dimiliki
oleh kota-kota yang dikunjungi. Penulis sendiri membawa luka-lukanya dalam
koper yang sama dengan paspor dan pakaian. Karena itulah perjalanan dalam buku
ini lebih menyerupai percakapan antara luka pribadi dan luka kolektif berbagai
bangsa.
Ketika
mengunjungi Leiden, misalnya, Benny tidak semata-mata berbicara tentang Belanda
dan sejarah kolonialisme. Ia juga sedang berbicara tentang ingatan, kehilangan,
dan cara manusia memelihara kenangan. Auckland, Peru, dan Blaichach
memperlihatkan hal serupa. Setiap tempat ternyata menyimpan kesedihan yang
berbeda-beda. Tidak ada negeri yang sepenuhnya sehat. Tidak ada masyarakat yang
benar-benar terbebas dari trauma. Bahkan kota-kota yang tampak tenang sekalipun
menyimpan lapisan-lapisan sejarah yang tak selalu ingin diingat.
Di
sinilah letak kelebihan buku ini. Benny tidak jatuh pada romantisme perjalanan
yang berlebihan. Ia tidak menjadikan dunia sebagai tempat yang seluruhnya
indah. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa manusia di mana pun sesungguhnya
memiliki persoalan yang hampir sama: kehilangan, perang, kerinduan, prasangka,
dan keinginan untuk memulai kembali. Karena itulah, pembaca tidak sedang diajak
mengagumi kota-kota asing, melainkan mengenali kesamaan nasib yang diam-diam
menghubungkan manusia dari berbagai bangsa.
Meski
demikian, gaya reflektif yang menjadi ciri khas Benny kadang membuat sejumlah
gagasan terlalu lama tinggal di satu tempat. Beberapa perenungan dapat
diringkas agar ritme penceritaan menjadi lebih padat. Namun, kelemahan tersebut
tidak mengurangi kekuatan utama buku ini sebagai catatan perjalanan yang kaya
dengan dimensi psikologis, historis, dan filosofis.
Berdamai
dengan Ingatan
Di
tengah banjir buku perjalanan yang sibuk merayakan perpindahan dan pengalaman
baru, Psikologi
Perjalanan justru menunjukkan bahwa manusia tidak pernah bepergian
dengan tangan kosong. Ia membawa masa lalunya sendiri. Bahkan ketika melintasi
Pakistan, Kroasia, Mesir, Turki, Slovenia, atau Korea Selatan, sesungguhnya
manusia sedang membawa luka yang sama ke tempat yang berbeda.
Buku
ini seolah ingin mengatakan bahwa peradaban dibangun bukan hanya oleh
kemenangan, melainkan juga oleh kesedihan yang diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Kota-kota menyimpan monumen, sementara manusia menyimpan
ingatan. Keduanya sama-sama sulit dilupakan.
Karena
itu, Psikologi
Perjalanan tidak sedang menawarkan resep kebahagiaan. Benny Arnas
seolah mengingatkan bahwa tidak semua luka harus sembuh. Sebagian cukup
dipahami, sebagian lain cukup diterima keberadaannya. Sebab yang paling sulit
dalam hidup bukanlah meninggalkan suatu tempat, melainkan menerima bahwa
beberapa kenangan akan tetap tinggal dan tumbuh bersama kita. Dan barangkali,
perjalanan diciptakan bukan untuk menghapus luka-luka itu, melainkan agar
manusia belajar hidup berdampingan dengannya. Bukan untuk melupakan masa lalu,
melainkan untuk memahami bahwa bahkan ingatan yang paling menyakitkan pun masih
dapat melahirkan kebijaksanaan.(*)
*Penulis adalah mentor menulis di Benny Institute. Buku prosanya adalah Lalu Hujan, Lalu Cinta (2021)


Comments
Post a Comment