Posts

Showing posts with the label story

AKU (TAK) MEMILIH

Image
Sumber: freepik.com ‘Pagi ini sangat cerah. Terima-kasih Tuhan untuk hari yang cerah ini. Apa kabarmu Tuhan?’ pikirku melayang di pagi buta yang cerah itu. Seperti biasa, setiap pagi, Senin-Jumat, aku mulai bersiap-siap berangkat kerja. Tepatnya pukul 07.00 WIB. Perjalanan dari rumah ke kantor memang tak dekat. Aku tinggal di daerah Jakarta Timur, Duren Sawit, sedangkan kantorku berada di Jakarta Pusat. Ya, setidaknya butuh waktu nyaris satu jam, jika menggunakan transportasi umum. Seperti biasa, aku berjalan kaki terlebih-dahulu untuk keluar komplek (sekitar 10 menit). Kemudian, aku menunggu metromini tujuan Kampung Melayu. Setelah tiba di Kampung Melayu, aku pun bergegas menuju Bus Trans-Jakarta tujuan Pasar Senen. Ah, pemandangan yang umum terjadi. Para pekerja berdesak-desakan menaiki bus ini. Aku pun termasuk salah satunya. Ini sudah menjadi sarapan pagiku, aku pun mensiasati dengan tidak menggunakan seragam kantor saat pergi. Setiap pagi, selama perjalanan dari rumah ke...

Biarkanlah Ikhlas Memaknai Dirinya Sendiri

Mengapa harus ada pertemuan? Pertemuan adalah kuasa Tuhan. Ia mempunyai rencana, lebih tahu apapun daripada yang manusia tahu: maha mengetahui. Pertemuan adalah rahasia alam, dalam hingga ke dasar bumi dan tinggi setinggi tiang langit. Sungguh, tak aku inginkan pertemuan semacam ini. Kau memberikan harapan, lantas kau torehkan luka hati. Aku tak pernah menganggap aku bodoh karena aku mengenalmu. Aku hanya kurang beruntung karena lebih lambat mengenalmu. Andai saja, kau lebih dulu mengenalku, aku yakin bahkan sangat yakin kau akan setia padaku. Tak perlu lagi ada dusta di antara aku, kau dan dia.

MEINDRENDRA 4

Image
Kembali ku bangun dan berteriak, “Eind maafkan aku sobat.” Tapi teriakanku itu tak kunjung ada jawaban dari dalam rumah. Perih rasanya hari ini, pagi mendung itu telah menjadi petaka bagiku, semua perbuatanku pagi itu seakan lontaran paradok yang tiada guna dan arti, seragam sekolah yang terlanjur coklat tak berwarna aslinya serta seakan retak seribu tanpa bentuk membuatku tak menggerakkan arah untuk kesekolah. Suasana pagi itu mulai memancarkan kilatan terang dan suara petir yang membisingkan telinga, dan rintik air yang menyerbu menggerogoti tubuhku hingga kuyub, layaknya hatiku saat itu mencerminkan  langit yang kelam, ditutupi awan gelap menghalangi mentari pagi tanpa celah sedikitpun. Hati dan batinku seakan retak seribu tanpa wujud berubah menjadi kalbu yang tak teringinkan. Pikirku melayang, berdiri pun rasanya tak sanggup, berjalan pun sempoyongan tak berarah meniti langkah tanpa tujuan, hinggaku terduduk kaku meratapi kenyataan pagi yang memilukan, ditengah hamparan rump...

MEINDRENDRA 3

Semalam suntuk selalu terpikirkan sahabatku yang masih terbelenggu dalam masalah yang membuatnya semakin tersiksa, satu malam itu pun tak hentinya kudengar suara rengekan dari kamar sahabatku itu, hendak memejamkan matapun segan rasanya, seakan stimulus nada malam terlalu dekat dikupingku menghantarkan pesan rintihan tiada henti. Mataku sembab esok harinya, serasa dunia akan runtuh melihat sinar mentari pagi yang membuat desaku menjadi jingga kemerah-merahan, berjalan sempoyongan menuju jendela lalu aku buka kerudung jendela melihat langit dibalik kaca seakan hujan akan turun tiada henti hari ini. Teringat Eind spontan aku melonjak dari posisiku langsung membersihkan diri untuk segera bertemu dengan sahabat kecilku itu. Makan pagi pun tak sempat aku santap karena ingin melihat keadan Eind yang selalu ku khawatirkan sejak malam tadi. Semua gerakanku pagi ini terlihat cepat seakan reseptor tubuh sejalan dengan jalan pikirku. Ku hampiri rumah Eind yang tak jauh dari rumah ku, pintu cok...

MEINDRENDRA 2

“Kemana saja kau seharian Eind, aku telah mencarimu kemana-mana. Ada apa dengan mu Eind, aku merasakan hal yang berbeda dari mu pada beberapa hari ini? Apakah ada masalah dengan mu?” terus ku lantunkan pertanyaan-pertanyaan khawatir mengenainya. Eind hanya diam dan bungkam seribu kata, menghela nafaspun tidak, tersentak ikut diam ku dibuatnya. Tiba-tiba Eind seakan ingin berkata tapi sebelum itu helaian nafasnya terdengar senada dengan ku mengikuti dentangan waktu. Sesaat Eind mulai memecahkan kesunyian helain nafas itu “Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku tak tahu akan jadi apa aku. Apa yang aku pelajari! tapi yang ku tahu adalah hidup, seluruh kehidupan adalah tentang mengajukan sebuah pertanyaan bukan mengetahui jawabannya. Keinginan melihat ada apa dibalik bukit ini membuat kita terus melangkah. Kita harus terus bertanya, ingin mengerti akan suatu hal. Bahkan saat kita tahu kita takkan pernah menemukan jawabannya karena kita selalu ingin mengajukan pertanyaan”. Terhenta...

MEINDRENDRA

Image
Langit dan bumi adalah kitab yang terbentang luas, sebagai ilmu pengetahuan dan sebagai bukti atas keagungan sang pencipta. Mengandaikan hamparan nan luas dijagat raya layaknya pesisir pantai panjang yang takkan menuai akhir jikalau di pandang, tapi itu hanyalah sebagian kecil dari jagat raya ini. Andaikan debu adalah benda yang terkecil dimuka bumi melihat nya pun seakan benda ghaib yang tak kan terlihat jikalau dilirik dengan mata telanjang. Hal itu baru sebutir debu yang ada di bumi, melirik sedikit condong ke atas terlihat langit terbentang luas nan indah hingga membayangkan kita layak nya debu yang begitu kecil. Itulah kita yang terkecil layak nya debu tadi, andaikan dipandang di atas jagat raya yang terhampar luas. Bumi adalah planet kecil urutan ke-4 dibandingkan 9 planet lainnya, sedangkan kita berada di salah satu sisi bumi yang bundar tapi pipih. Bimasakti yang mempunyai 9 planet, beribu-ribu bintang dan benda angkasa tersebar luas menempati setiap sisi sudut-sudut dalam ga...

Kereta Muara Enim 2

Aku teriakkan kereta api itu untuk berhenti dan bersedia aku naik diatas sana. Tapi upayaku sia-sia saja, hanya menghabiskan energi dan suara yang percuma untuk dilakukan. Datang pria yang membangunkan aku dari lamunan tadi. Karena kesal, pria itu kembali menjadi sasaran amarahku dengan naluri seorang cewek yang judes. “Lemot banget sih bangunin orang! Lihat nih ketinggalan kereta jadinya” dengan tetesan air mata dan suara cempreng aku celotehi pria itu. “Kenalin aku Angga. Siapa namanya?” suara lembutnya membangunkan aku dari tangis. “Eh… kamu! ngapain kamu disini? Pergi sono susulin keretanya!” “Sudah jauh tuh, percuma aja. Siapa namanya?” diulurkan tangannya agar aku bangkit dari posisi jongkok itu. Tak segan aku sambut dan kembali duduk dikursi penumpang pada ruang tunggu di stasiun itu. “Owh, siapa loe? Maksih, untuk semuanya! Mila.” jawab ku sinis, dan langsung keluar ke tempat pembelian tiket, Meninggalkan pria itu didalam stasiun. Langsung saja aku pesan tiket mala...

Kereta Muara Enim

Awalnya pada perhentian kereta api saat liburan. Wajah kusam, pakaian retak seribu, panas menyengat. Kalau bukan karena masalah kereta api yang mendapat masalah, mungkin takkan aku temui kisah indah mendatangkan pahit ini. “Fuh… batrei hp habis, panas, lengkap sangat penderitaanku.” Celotehku sendiri didalam kereta, gerbong ekonomi ini. Aku putuskan untuk keluar mencari udara segar. Aku lewati jalur tengah antara kursi-kursi penumpang. Terlihat banyak penumpang yang keluar dari gerbong ini dan sebagian penumpang tetap bertahan diposisinya sambil berkipas ria. Perlahan kulewati jalur itu. “praak….” Langsung aku tolehkan kepalaku ketempat sumber suara yang tepat dibelakangku. Ternyata hp jatuh dari saku sampingku. Memang saku samping celanaku tidak terlalu dalam, sehingga bukan hal yang aneh jika hpku jatuh, dan ini pun bukan untuk pertama kalinya hpku keluar dari saku samping. “preek….” Belum sempat kuambil hpnya dari jalur itu. Sekonyong-konyongnya seorang pria menginjak hpku ya...

AKU AKAN MATI

Dua hari ini perutku mual tak ada yang bisa diserap dari makanan yang aku makan. Hanya tersisa tiga hari lagi untuk bisa menikmati hidup di dunia ini. Walau semua makanan hambar rasanya tapi tetap saja aku makan untuk menghormati buatan istri tercinta. Aku perlihatkan ekspresi muka seperti sedang menyantap makanan yang sangat lezat. Setelah itu semua makanan habis, keluar semua dari mulut ini. Mungkin mereka mengerti aktingku selama ini saat sedang menyantap makanan. Ah, tapi biarlah yang penting aku sudah berusaha membuat mereka senang sebelum maut menjemputku. Dua hari ini juga keringat dingin keluar dari badanku setiap aku selesai shalat. Menggigil. Dingin yang menusuk ke tulang bagian dalam. Terkadang aku meratap dikala sendiri. Tak bisa aku tutupi lagi untuk pengaruh keringat ini. Betapa tidak, keringat keluar terus menerus dari tubuhku. Tak pake kompromi. Keringat ini telah membasahi sekujur tubuh bagian atas. Mukaku basah bukan kepalang. Tak lama diserang keringat, bada...