SEMUA HANYA SOAL WAKTU

Angin ibu kota semakin pekat. Bercampur debu, pasir, dan daun kering. Gelombang angin yang bergoyang hilir-mudik seakan tak terusik dengan keramaian kota. Seperti biasa, pada waktu yang sama. Jalan ibu kota selalu dilewati dengan desak-desakan.


Terkadang, angin inilah yang membuat tubuh seakan lupa dengan hangatnya hawa kota, sedikit mengurangi peluh di badan. Terkadang, angin jugalah yang membawa sampah yang tak begitu berarti, kemudian menghempaskan ke muka yang sudah terlihat lusuh dan lelah. Terkadang, melalui angin jugalah aku mencoba menyampaikan setitik harapan, asa, dan cita kepada yang kuasa. Terkadang aku juga sering menitipkan sebongkah rindu melalui angin, tapi entah, apakah itu akan sampai pada tujuan yang tepat?! Entahlah.

Sekarang mungkin boleh aku seperti ini, tapi esok, lusa, dan ataupun hari berikutnya, aku harus bisa lebih baik lagi. Tak lagi ditemani angin yang bercampur debu, pasir, dan dedaunan kering. Mungkin angin dengan versi yang lainnya. Mungkin.

Namun, di balik semua itu, aku sangat menikmati semua proses ini. Proses yang membuat aku bisa semakin lebih baik. Proses yang akan mengantarkan aku untuk mendapatkan apa yang telah kucoba titipkan bersama angin.

Aku suka dengan ketidak-teraturan sekarang ini. Aku suka dengan kebelum-jelasan ini, karena mulai dari sinilah aku akan membuatnya semakin jelas. Terima kasih angin. Terima kasih telah memberikanku kesempatan untuk merasakan proses dinamika hidup yang luar biasa ini. Terima kasih sudah mau aku repotkan dengan segudang titipan. Terima kasih.

Comments

Popular

Bujang Gadis Bule Pakle - Perfect Strangers

10 Cara Mendapatkan Tiket Pesawat Murah

Bukit Sulap dan Hikayat Putri yang Hilang

OPPO Service Center Lubuklinggau Siap Melayani Kamu